6 Fakta Menarik Kecamatan Bendungan, Nomor Terakhir Wajib Kamu Coba

Suasana Jalan di Kecamatan Bendungan yang berbatasan dengan kabupaten Ponorogo – Doc. KecamatanBendungan.Blogspot

Berita Plat AG – Kecamatan Bendungan adalah salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Trenggalek. Kawasan Kecamatan Bendungan meliputi daerah pegunungan dan berada di ketinggian 390-900 m dari permukaan laut.

Karena letaknya yang berada di paling utara Kabupaten Trenggalek, kecamatan ini berbatasan langsung dengan 3 kabupaten yaitu Kabupaten Nganjuk disebelah utara, Kabupaten Tulungagung di sebelah timur, dan Kabupaten Ponorogo disebelah barat.

Selain itu, kecamatan Bendungan juga memiliki fakta menarik yang jarang diketahui.

Berikut 6 Fakta Menarik Kecamatan Bendungan
1. Destinasi Wisata Indah

Kecamatan Bendungan memiliki banyak destinasi wisata yang menyuguhkan keindahan alam pegunungan asri.

Beberapa diantaranya adalah Agrowisata Dilem Wilis yang terletak di Desa Dompyong, Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek yang dulunya merupakan sebuah perusahaan pengolahan biji kopi milik pemerintah Belanda dengan luas sekitar 40 Hektar. Selain itu juga terdapat potensi perkebunan cengkeh dan peternakan sapi perah. Di kawasan wisata ini beberapa bangunan pabrik masih berdiri dengan kokoh, dan masih berfungsi, serta aliran sungai sebagai tenaga penggerak mesin juga masih mengalir dan berfungsi.

Selain dilem wilis masih banyak lagi destinasi wisata yang menarik untuk dijamah jika kamu berkunjung ke Kacamata Bendungan, diantaranya ; Coban Rambat, Putri Maron, bukit Goa Biru, dll.

Di Kecamatan Bendungan juga sedang dibangun Bendungan Bagong yang direncanakan akan memiliki kapasitas tampung 17,40 juta m3. Dengan luas genangan 73,45 hektare, Bendungan Bagong nantinya juga berfungsi untuk mengurangi debit banjir Sungai Bagong sebesar 78,44% sekaligus konservasi DAS Bagong serta potensi pariwisata.

2. Pertanian dan Peternakan

Fakta menarik kedua yang dimiliki oleh Kecamatan Bendungan adalah kawasan yang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani dan peternak.

Dengan letaknya yang berada di daerah pegunungan tentunya sangat mendukung apabila ditanami berbagai macam tanaman seperti bahan makanan, sayur-sayuran, buah-buahan, serta rempah-rempah, yang dapat digunakan sebagai mata pencaharian masyarakat.

Bahan makanan yang tumbuh di kecamatan bendungan antara lain: padi, jagung, ubi kayu, kacang tanah, dan kedelai. Sedangkan buah-buahan yang dapat anda temui di kecamatan Bendungan antara lain: Alpukat, Durian, Jambu Air, Mangga, Nangka, pepaya, pisang, rambutan, dan sirsak.

Selain itu berbagai macam rempah-rempah seperti jahe, kunyit, Kencur, Temu lawak, Cengkeh serta lempuyang juga banyak ditanam di kawasan kecamatan Bendungan. Mayoritas Masyarakat kecamatan bendungan juga memiliki hewan ternak, seperti kambing dan sapi untuk pekerjaan sampingan.

3. Jalannya Exstrem

Jalan-jalan di Kecamatan Bendungan terkenal ekstrem, apalagi di musim hujan selain sering terjadi longsor pada jalan utama, pohon tumbang hingga menutupi ruas jalan juga sering terjadi di kawasan ini. Bagi kamu yang ingin berkunjung ke sana hendaknya berhati-hati apabila hujan turun.

Jalan-jalan yang berada di pelosok desa di kecamatan Bendungan juga lebih extrem karena banyak jalannya masih berupa tanah liat atau batuan, sehingga menambah exstrem ketika musim hujan.

Jalan menuju di Desa Boto Putih terkenal curam dan menanjak, Desa Boto Putih adalah desa paling atas di Kecamatan Bendungan, desa ini berada pada ketinggian 900 M diatas air laut. Kebudayaan masyarakat zaman dahulu di desa ini masih sangat kental.

4. Jalur Masuknya Penajajah Belanda

Dalam buku sejarah NU Trenggalek karangan Ahmad Hamid Wilis, Kecamatan Bendungan merupakan jalur masuknya tentara Belanda. Pada perang Agresi II tentara belanda menyerang seluruh Wilayah RI termasuk menyerang Trenggalek.

Tentara Belanda Masuk ke Trenggalek pada hari senin tanggal 1 Maret 1949 dari sebelah utara Kabupaten Trenggalek melalui 4 jurusan yaitu Soko, Ponorogo, Bendungan dan Ngares.

Sebelum belanda masuk ke Trenggalek, masjid-masjid di bakar oleh sisa-sisa PKI Madiun dan kelompok anti agama Islam lainnya. Sehingga pemerintah RI mengangkat beberapa camat di Trenggalek untuk menjadi Camat Pendudukan Belanda (Camat Federal). R. Oetomo sebagai Camat Durenan kemudian diangkat menjadi Camat Trenggalek Sektor Utara untuk mengatasi penjajahan Belanda pada perang agresi II ini, sedangkan kekosongan camat durenan diisi oleh K. Ahmad Mu’in yang merupakan Komandan Sabilillah Trenggalek saat itu.

Selain mengusir penjajah, Desa-desa yang berada di Kecamatan Bendungan juga harus berjuang berhadapan dengan sisa-sisa pasukan PKI yang masih bersenjata dan eksis mengadakan konsolidasi imbas dari pemberontakan PKI Madiun.

5. Tempat Perang Minak Sopal dan Raja Bedander

Seperti di lansir dalam website resmi Desa Srabah, yaitu salah satu desa di Kecamatan Bendungan dikatakan bahwa dahulu kala Raja Bedander pernah bertarung dengan Adipati Minak Sopal di Kecamatan Bendungan lebih tepatnya di Desa Srabah.

Raja Bedander yang saat itu menguasai gunung Wilis ingin menambah daerah kekuasaannya ke Selatan yaitu di Daerah Trenggalek, Karena terjadi perebutan kekuasaan dan Minal Sopal tidak ingin mengorbankan rakyatnya, maka mereka berdua bersepakat umtuk adu kesaktian di tengah hutan.

Mereka berkelahi adu kesaktian sampai berhari-hari. Karena kelelahan mereka istirahat, usai istirahat mereka berdua mengajak bertanding lagi dengan cara adu ayam. Ayam mereka berdua juga sangat sakti, karena setiap adu cakar terjadi percikan api.

Namun akhirnya ayam Adipati Minak Sopal menghantam dan mencakar ayam Raja Bedander dengan kerasnya sehingga ayam itu jatuh terduduk. Setelah jatuh terduduk ada kejadian aneh bahwa ayam Raja Bedander menjadi batu, untuk itu sampai sekarang bekas tempat adu jago itu dinamai “Watu Jago,” karena di situ ada batu menyerupai ayam jago.

karena merasa belum kalah Raja Bedander membuat pagar gaib yang diukir dengan mantra sakti yang disebut “pager ukir” dan selanjutnya Raja Bedander mengajak lagi bertanding adu kesaktian. Namun pada perkelahian kali ini Raja Bedander kena sabetan keris Adipati Minak Sopal. Akhirnya Raja Bedander lari dan darahnya tercecer di jalan. Dia istirahat darah tetap mengalir sehingga tanah itu diberi nama “lemah bang” yang artinya tanah merah.

Raja Bendander meneruskan perjalananya kembali ke Gunung Wilis dan karena terluka juga lelah Sang Raja mengambil Bambu Kuning sebagai tongkat (teken) bambu kuning ahirnya dikenang oleh masyarakat sekitar dengan sebutan ampel gading.

Prajurit Bendander yang tertinggal di lereng Wilis menamakan tempat tinggalnya dengan sebutan “Srabah” karena ketika perang di daerah itu “seser anggone obah” dan sampai sekarang wilayah Lereng Gunung Wilis bagian selatan diberi nama Desa Srabah. Salah satu desa di Kecamatan bendungan.

6. Nasi Gegok

Nasi gegok merupakan makanan khas Kecamatan Bendungan, nasi gegok terdiri nasi punel (nasi pulen dan menggumpal) yang ditambahkan sambal dan lauk berupa ikan teri atau ikan tuna serta ampela.

Nasi gegok khas Bendungan ini dijual dengan harga murah yaitu seharga Rp. 3.000 sampai 5.000 harga ini sebanding dengan porsinya yang sedikit, jika kamu ingin makan banyak, kamu juga bisa menambah porsi supaya kenyang.

Nasi gegok jika dimakan saat masih hangat dengan sambalnya yang pedas sangat cocok jika disantap di tempat yang dingin seperti di Kecamatan Bendungan ini. Apabila kamu berkunjung kesana jangan lupa mampir ke warung-warung yang menjual nasi gegok, banyak warung yang dapat kamu temui di sekitar ruas jalan utama Kecamatan Bendungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *